Mengenal Gula Kayu Pemanis Makanan Yang Cocok Bagi Penderita Diabetes Karena Nol Kalori

Gula kayu

Makanan dengan rasa manis – apalagi dalam bentuk cemilan – banyak disukai oleh banyak orang, termasuk anda, bukan? Susah memang menampik kenikmatan makanan manis.

Belakangan Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan rekomendasi konsumsi gula agar tidak melebihi 50 gram (5 sendok makan) per orang per harinya untuk mengurangi risiko penyakit diabetes, namun masih banyak orang terlanjur sulit meninggalkan seleranya.

Contohnya menikmati kopi atau teh kurang afdol jika tidak ditambahkan pemanis seperti gula, susu atau krim. Tak lengkap pula jika tidak ada kudapan manis – seperti donat, pancake, dll –sebagai pendamping minum teh atau kopi. 

Bertuntung saat ini  jenis produk pemanis makanan semakin bervariasi, tak hanya dari gula tebu, yang beredar di pasaran. Salah satu yang coba disosialisasikan adalah gula kayu atau wood sugar.  Gula ini berasal dari serat tanaman. Inovasi pangan ini mampu memberikan rasa manis tanpa menambah kalori dan tidak meningkatkan kadar gula darah.  

Gula kayu pertama kali ditemukan dan diisolasi dari kayu pada tahun 1881. Jenis kayu apa pun sebenarnya mengandung gula kayu. Inilah yang dikembangkan oleh Satou Lab bekerja sama dengan Noguchi Medical Research Institute di Jepang untuk menciptakan gula kayu dari ekstrak kulit kelapa, batang bambu, bonggol jagung, dan tumbuhan lainnya. Riset dilakukan sejak akhir tahun 2013 itu menghasilkan gula kayu yang kemudian dipasarkan dengan merek Sugalife.

“Salah satu sifat dari gula kayu yaitu, tidak diserap langsung oleh tubuh. Riset terdahulu membuktikan, konsumsi gula kayu dapat menghambat kenaikan kadar gula dalam darah. Karena dapat menjaga kadar gula dalam darah, gula ini aman digunakan sebagai pengganti pemanis bagi penyandang diabetes,” jelas Dr. Yoshihisa Asano, PhD, DPH., Medical Scientist, Biochemist, Nutritionist, sekaligus pendiri dari Noguchi Medical Research Institute, Tokyo.

Tak hanya itu, menurut Dr. Yoshihisa gula kayu juga dapat meningkatkan jumlah bakteri baik (probiotik) dalam usus, yang berfungsi untuk menjaga sistem metabolisme, dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Ia optimistis, gula kayu dapat menjadi solusi konsumsi pemanis bagi masyarakat Indonesia dan dunia. Apalagi gula kayu juga cukup fleksibel diolah menjadi kue dan lain-lain. Masyarakat bisa mendapatkan rasa manis tanpa perlu khawatir efek buruk yang muncul bagi kesehatan.